Johannesburg: Sebuah organisasi negara-negara Afrika menyerukan adanya penghitungan ulang hasil pemilihan umum presiden di Republik Demokratik Kongo. Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC), yang terdiri dari 16 negara, menilai ada sesuatu yang aneh dalam pilpres tersebut.

“Ada keraguan kuat atas hasil pemilu. Penghitungan ulang diperlukan untuk menghadirkan kepastian bagi pemenang dan kubu yang kalah,” ucap SADC, seperti dilansir dari laman Guardian, Minggu 13 Januari 2019.

SADC juga menyarankan adanya solusi politik yang telah dinegosiasikan sebelumnya untuk membentuk pemerintah persatuan nasional di RD Kongo.

Pernyataan SADC menggarisbawahi kekhawatiran yang terus berkembang di RD Kongo. Alih-alih menjadi titik balik menuju hal positif, pemilu pada 30 Desember 2018 justru memperdalam krisis politik di RD Kongo dan berpotensi berubah menjadi kericuhan.

Dikhawatirkan jika RD Kongo rusuh akibat pemilu, beberapa negara lain di wilayah pusat, timur dan selatan di benua Afrika juga akan terkena imbasnya.

Komisi Pemilu RD Kongo menyatakan pemenang pemilu adalah Felix Tshisekedi, pemimpin partai oposisi utama di RD Kongo. Tshisekedi mengalahkan politikus Martin Fayulu lewat selisih tipis perolehan suara.

Namun Fayulu, seorang mantan eksekutif dan anggota parlemen, mengklaim dirinya menang mutlak. Ia menuduh Tshisekedi telah membuat kesepakatan tertentu dengan Presiden Joseph Kabila agar dinyatakan sebagai pemenang.

Baca: Felix Tshisekedi Pimpin Oposisi Menang Pemilu Kongo

Klaim Fayulu didukung Gereja Katolik di DR Kongo yang memiliki pengaruh besar. Gereja telah mengerahkan sekitar 40 ribu relawan untuk mengawasi jalannya pemilu.

Gereja Katolik RD Kongo mengaku menemukan perbedaan data, dan seharusnya pemenang pemilu bukanlah Tshisekedi.

Jika hasil pemilu tidak diubah, maka Tshisekedi akan menjadi pemimpin pertama di RD Kongo yang berkuasa lewat proses pemilu. Ini merupakan pemilu pertama RD Kongo sejak negara tersebut merdeka dari Belgia pada 1960.

RD Kongo dilanda korupsi, konflik bersenjata, dan wabah penyakit. Jumlah rata-rata kasus kekerasan seksual serta malnutrisi di RD Kongo juga disebut-sebut sebagai salah satu yang tertinggi di dunia.

Sumber utama pendapatan RD Kongo berasal dari sektor mineral, termasuk beberapa jenis krusial dalam membuat komponen untuk telepon genggam dan mobil listrik.

(WIL)