Protes kenaikan harga BBM di Zimbabwe. (Foto: AFP)

Harare: Membungkam protes warga, Pemerintah Zimbabwe menginstruksikan operator jaringan seluler terbesar di negara itu untuk menutup akses internet. 

Protes telah berkobar sejak 14 Januari 2019 lalu yang menolak harga BBM naik hampir dua kali lipat. 

“Pada 17 Januari 2019 pukul 22.05 waktu setempat, kami mendapat arahan untuk penghentian internet secara total sampai pemberitahuan lebih lanjut,” sebut pernyataan Econet Wireless, operator jaringan seluler di Zimbabwe.

Dikutip dari AFP, Jumat 18 Januari 2019, Econet memilih mematuhi arahan tersebut karena berkaitan tentang legalitasnya ke depan.

Hingga hari ini, lebih dari 600 pedemo ditangkap oleh otoritas Zimbabwe. Pemerintahan Presiden Emerson Mnangagwa menilai protes tersebut merupakan protes yang sia-sia.

Demo ini juga ditanggapi Kedutaan Besar Amerika Serikat di Harare. Mereka menyerukan pasukan keamanan Zimbabwe untuk menanggapi kerusuhan tersebut secara profesional dan menyerukan adanya kebebasan berekspresi.

“AS sangat mendukung kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai. Warga memiliki hak untuk memprotes dan mengekspresikan pandangan mereka secara damai,” kata Kedubes AS dalam sebuah pernyataan.

“Kami juga prihatin dengan pemblokiran layanan internet dan mendesak pemulihan akses dan aplikasi media sosial,” lanjut Kedubes AS.

Sementara itu, Mnangagwa mengatakan, kenaikan harga BBM ditujukan untuk mengatasi peningkatan penggunaan BBM secara ilegal. Kini, harga bensin di Zimbabwe naik menjadi USD3,31 (Rp50 ribu) dari USD1,24 (Rp17 ribu) dan untuk diesel menjadi USD3,11 (Rp45 ribu) dari USD1,36 (Rp18 ribu). 

(FJR)