Polisi antihuru-hara berpatroli di kota Buluwayo, Zimbabwe, 15 Januari 2019. (Foto: AFP/ZINYANGE AUNTONY)

Bulawayo: Tentara berpatroli di berbagai ruas jalan di Zimbabwe, Selasa 15 Januari, di tengah bentrokan antara demonstran dengan pasukan keamanan yang menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk satu polisi.

Puluhan orang juga terluka dalam kericuhan di seantero Zimbabwe pada Senin 14 Januari, yang merupakan hari kedua dari rencana tiga hari unjuk rasa nasional. Aksi demo ini dipicu penaikan harga bahan bakar minyak di Zimbabwe yang diumumkan pada Sabtu pekan kemarin.

Di kota Bulawayo, satu orang dilaporkan ditembak mati pada Selasa petang. Sebelumnya di hari yang sama, satu polisi meninggal dunia akibat luka parah yang dideritanya saat menghadapi demonstran Senin kemarin.

Otoritas Zimbabwe telah mengeluarkan peringatan kepada semua orang untuk tidak menyerang kantor polisi dan fasilitas umum. Total 200 orang di Zimbabwe telah ditangkap terkait aksi kekerasan, yang membuat banyak toko di wilayah perkotaan hangus terbakar.

Tidak hanya pembakaran, penjarahan juga terjadi di tengah aksi unjuk rasa. Addmore Moyo, seorang pegawai negeri sipil berusia 54 tahun, mengaku kesal terhadap tingginya aksi kekerasan di Zimbabwe.

“Situasi saat ini sangat mengerikan. Bagaimana bisa orang-orang mencuri dari masyarakat mereka sendiri?” ucap Moyo, seperti dinukil dari laman Al Jazeera, Rabu 16 Januari 2019. Kerusuhan ini mirip dengan peristiwa di Prancis, yang awalnya juga dipicu penaikan harga BBM.

Baca: Macron Kecam Kekerasan Ekstrem Demonstran Rompi Kuning

Selain krisis, Zimbabwe juga sedang menghadapi kekurangan uang tunai dalam bilangan dolar Amerika Serikat, serta uang kertas obligasi yang kehilangan nilainya, yaitu lebih rendah dari USD1.

Perusahaan-perusahaan di Zimbabwe juga tidak dapat memenuhi permintaan untuk mendapatkan mata uang asing dengan cara mengekspor barang. Sebaliknya, Zimbabwe mengimpor lebih banyak produk dan barang daripada mengekspor.

(WIL)